Aroma Lavender

Aroma lavender segar dari pakaian Mecca selalu menjadi penanda bagi Manca bahwa sore yang menyenangkan telah dimulai. Di ruang kelas kursus bahasa Inggris PAHLAWAN yang ber-AC alam itu lumayan dingin. Manca yang baru duduk di kelas 4 SD selalu datang lebih awal. Namun, hari pertama mereka bertemu adalah momen yang tidak pernah dilupakan Manca. Seorang anak perempuan dengan seragam putih-biru bermata teduh masuk ke kelas yang penuh, lalu berjalan ke arahnya.

“Bangku ini kosong kan ya? Kakak boleh duduk di sini?” tanya anak perempuan itu lembut.

Manca menatap wajah manis di hadapannya, lalu tersenyum lebar hingga pipinya yang tembam menyipitkan matanya. “Boleh, Kak. Kosong bangkunya. Saya duduk sendiri.”

Sejak detik itu, sudut belakang kelas menjadi milik mereka. Anak perempuan itu bernama Mecca Mitra Maschiella, seorang siswi kelas 7 SMP. Mecca yang merupakan anak tunggal langsung jatuh hati pada sifat Manca yang imut dan menggemaskan. Karena tidak memiliki saudara, Mecca menumpahkan seluruh kasih sayangnya kepada Manca, menganggapnya seperti adik kandung sendiri.

Manca sering kali terpesona saat memperhatikan Mecca yang sedang mencatat pelajaran. Kulit Mecca begitu putih bersih, bahkan saking indahnya, jalinan urat-urat halus kebiruan tampak samar di punggung tangannya. Rambutnya dipotong pendek rapi, menyisakan tengkuk putih mulus yang selalu terlihat jelas di atas kerah bajunya setiap kali ia menunduk menulis. Gerakan tangannya anggun, bibirnya yang proporsional sering tersenyum kecil, dan suaranya saat mengeja kosakata bahasa Inggris terdengar seperti alunan musik yang menenangkan.

Suatu hari di sekolah, nasib sial menimpa Manca. Saat bermain petak umpet, seorang temannya tidak sengaja menutup pintu kelas dengan keras tepat ketika tangan Manca berada di celah engsel. Jeritan histeris Manca memecah koridor sekolah. Akibat kecelakaan itu, tiga kuku jari tangan kanannya remuk dan terpaksa harus dicabut di puskesmas.

Sore harinya di tempat kursus, Manca datang dengan tangan kanan terbalut perban putih tebal. Wajahnya yang biasa ceria tampak murung. Ketika guru mulai menuliskan materi panjang di papan tulis, Manca mencoba memegang pulpen dengan jari manis dan kelingkingnya yang tersisa. Tangannya gemetar, dan rintihan kecil lolos dari bibirnya karena rasa perih yang berdenyut-denyut.

Melihat hal itu, Mecca langsung merebut pulpen dari jemari Manca. “Sini. Biar Kakak tuliskan,” kata Mecca lembut, matanya memancarkan rasa khawatir yang mendalam. “Sakit yah jarinya.”

Manca mengangguk manja, menyandarkan kepalanya sedikit ke bahu Mecca yang wangi. “Sakit banget, Kak. Tadi pas dicabut kukunya, Manca nangis.”

Mecca mengusap rambut Manca dengan tangan kirinya yang halus, sementara tangan kanannya dengan cekatan menyalin materi kursus ke buku adiknya itu. “Makanya. Jangan bandel! Lain kali kalau main harus hati-hati,” omel Mecca, namun nadanya penuh keterikatan seorang kakak yang tidak tega melihat adiknya terluka.

Hubungan mereka pun semakin erat dan meluas ke luar dinding tempat kursus. Mecca adalah anak seorang manajer Pertamina di kota mereka, tinggal di sebuah kawasan perumahan elit dengan pagar besi tinggi dan halaman luas. Sementara Manca hanyalah anak dari keluarga yang sangat sederhana, tinggal di gang sempit yang padat. Perbedaan kasta sosial itu sama sekali tidak menjadi dinding pembatas bagi Mecca.

Jika hari libur tiba dan mereka tidak bertemu di kursus, sebuah mobil sedan mewah hitam sering kali perlahan memasuki gang rumah Manca. Mecca akan turun dari mobil, menyapa ibu Manca dengan sopan, lalu menjemput Manca untuk bermain di rumahnya. Bagi Manca, naik mobil mewah Mecca adalah sebuah petualangan yang luar biasa menyenangkan.

Setibanya di rumah Mecca yang megah dan berlantai marmer, Manca tidak pernah meminta fasilitas yang aneh-aneh. Ketika Mecca menawarinya berbagai makanan mahal, es krim premium, atau camilan impor yang ada di dalam kulkas besarnya, Manca selalu menggeleng malu.

“Adek mau makan apa? Bilang sama Mbak di dapur, nanti dibuatkan,” tanya Mecca suatu siang.

Manca tersenyum malu-malu, menyentuh perutnya yang berbunyi. “Manca mau nasi putih pakai kecap manis sama kerupuk putih yang besar aja, Kak. Ada?”

Mecca tertegun sejenak sebelum akhirnya tertawa renyah. Suara tawanya memenuhi ruang tamu yang sepi. Ia selalu senyum-senyum sendiri menyaksikan betapa polos dan sederhananya anak laki-laki di hadapannya ini. Di tengah kemewahan yang bisa membeli apa saja, Manca tetaplah Manca yang bahagia hanya dengan sepiring nasi, kecap, dan kerupuk kaleng. Mecca dengan telaten akan menyuapi Manca yang tangannya masih diperban, menikmati momen-momen hangat kebersamaan mereka.

——————————-o0o—————————–

Namun, roda kehidupan tidak selalu berjalan di jalan yang lurus dan tenang. Dua tahun berlalu, persahabatan mereka telah menjelma menjadi bagian dari napas kehidupan Manca. Manca kini sudah duduk di kelas 6 SD, dan Mecca sudah berada di kelas 9 SMP, bersiap menghadapi ujian kelulusan.

Suatu sore yang mendung, Mecca datang ke tempat kursus dengan mata yang sembap. Tidak ada senyum manis yang biasanya menyambut Manca. Bau lavender dari pakaiannya terasa samar, digantikan oleh aura kesedihan yang pekat. Manca yang menyadari perubahan itu duduk di samping Mecca dengan perasaan tidak tenang.

“Kak Mecca kenapa? Habis nangis ya?” tanya Manca pelan, takut menyinggung.

Mecca menatap adiknya itu cukup lama sekali. Ia meraih tangan Manca yang kini tentu saja sudah bebas dari perban dan menggenggamnya erat-erat. Pembuluh darah kehijauan di tangannya tampak menegang.

“Caa, Papa Kakak dipindahtugaskan ke Balikpapan, Dek. Minggu depan… kami sekeluarga harus pindah.”

Bagai disambar petir di siang bolong, dada Manca terasa sesak. Dunia kecilnya runtuh seketika.

“Pindah? Terus… Adek sama siapa di sini? Kakak nggak kursus di sini lagi?” Suara Manca mulai bergetar, air mata langsung menggenang di pelupuk matanya.

Mecca memeluknya erat-erat di sudut kelas itu. “Kakak bakal kangen banget sama kamu, Dek. Maafin Kakak ya. Tapi Kakak janji, sebelum Kakak berangkat hari Sabtu nanti, Kakak mau jemput kamu untuk terakhir kalinya. Kita main seharian di rumah Kakak, oke?”

Manca hanya bisa menangis sesenggukan di dalam pelukan Mecca, meresapi aroma tubuh kakaknya yang mungkin tidak akan pernah ia hirup lagi dalam waktu yang lama.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti sebuah siksaan bagi Manca. Ia menghitung hari dengan hati yang berat. Hari Jumat malam, hujan deras mengguyur kota mereka, menyisakan udara dingin dan genangan air di mana-mana pada Sabtu paginya.

Manca sudah mandi sejak pagi sekali, memakai baju terbaiknya yang sudah disetrika rapi oleh ibunya. Ia duduk di teras rumah, menunggu sedan hitam milik keluarga Mecca menjemputnya.

Pukul sembilan pagi, mobil yang dinanti tidak kunjung datang. Pukul sepuluh, belum ada tanda-tanda. Pukul sebelas, kecemasan Manca berubah menjadi kepanikan. Tiba-tiba, ponsel ibunya berdering. Di seberang telepon, suara ibu Mecca terdengar panik dan menangis histeris.

Ibu Ani… tolong… Mecca…” suara itu terputus-putus diiringi suara sirine yang meraung-raung.
Ternyata, dalam perjalanan menuju rumah Manca untuk menjemputnya, mobil yang ditumpangi Mecca dan sopirnya mengalami kecelakaan hebat di jalan raya utama. Sebuah truk kontainer mengalami rem blong di jalan turunan dan menghantam bagian samping mobil sedan mereka dengan keras.
Tanpa memikirkan hal lain, Manca dan ibunya langsung bergegas menuju rumah sakit umum kota dengan becak motor di bawah sisa gerimis. Sepanjang jalan, Manca tidak berhenti berdoa. Air matanya luruh menyatu dengan rintik air hujan.

“Jangan ambil Kak Mecca, ya Allah! Jangan…” bisik Manca dalam hati dengan dada yang sesak luar biasa.

Setibanya di rumah sakit, suasana koridor instalasi gawat darurat (IGD) tampak mencekam. Ayah dan ibu Mecca menangis di depan pintu ruang operasi. Ketika melihat Manca datang, ibu Mecca langsung memeluk Manca.

“Mecca dari tadi mengigau memanggil nama kamu, Manca… Dia mau memberikan ini padamu,” kata sang ibu sambil menyerahkan sebuah kotak kardus kecil yang agak penyok dan terkena noda darah kering.

Manca membuka kotak itu dengan tangan bergetar. Di dalamnya ada sebuah album foto kecil berisi foto-foto kebersamaan mereka di tempat kursus dan di rumah Mecca. Di bagian paling bawah, ada sebuah botol parfum beraroma lavender yang biasa Mecca gunakan, sebuah robot mainan mahal yang pernah Manca pandangi di toko mainan, dan selembar surat.

Manca membaca surat itu dengan air mata yang mengalir deras:
Untuk adikku Manca yang paling imut. Jangan nakal lagi ya, jangan sampai jarinya kejepit pintu lagi. Kakak sayang banget sama kamu. Walaupun Kakak di Kalimantan, Adik harus rajin belajar bahasa Inggrisnya. Mainan ini untuk kamu, dan parfum ini supaya Adik selalu ingat bau Kakak kalau kita lagi belajar bareng. Kakak jemput sekarang ya, kita makan nasi kecap pakai kerupuk lagi…

Tiba-tiba, lampu merah di atas pintu ruang operasi padam. Seorang dokter keluar dengan wajah lesu dan menggelengkan kepalanya perlahan kepada ayah Mecca. Jeritan histeris ibu Mecca memecah keheningan koridor rumah sakit.

Manca terpaku. Kakinya terasa lemas seperti tidak bertulang. Ia menerobos masuk ke dalam ruangan saat petugas hendak memindahkan blangkar. Di atas ranjang rumah sakit, terbujur kaku tubuh kakak perempuan yang sangat dicintainya. Wajah manis itu kini pucat pasi, namun tampak damai seperti sedang tertidur. Rambut pendeknya yang indah tampak berantakan, dan tengkuk putihnya yang biasa bersih kini ternoda merah darah kering. Tangan putih dengan urat-urat kehijauan yang dulu sering menuliskan materi pelajaran untuknya kini terasa sangat dingin saat ia menggenggamnya.

“Kak Mecca… bangun Kak… Ini adek, Kak… Adek udah datang. Katanya mau makan nasi kecap sama kerupuk…” bisik Manca di telinga Mecca.

Suaranya tercekat di tenggorokan.
Manca memeluk tubuh kaku itu untuk terakhir kalinya, mencium aroma lavender yang masih tersisa samar di balik bau obat-obatan rumah sakit yang menyengat. Di luar, hujan kembali turun dengan sangat lebat, seolah-olah alam semesta ikut menangisi kepergian seorang kakak yang berhati malaikat, yang telah pergi membawa sepotong hati milik adik kecilnya ke keabadian.

Manca tahu, ruang kursus bahasa Inggris itu tidak akan pernah sama lagi. Bangku di sebelahnya akan selalu kosong, namun di dalam hatinya, sosok Mecca Mitra Maschiella dengan kulit putihnya, rambut pendeknya, dan kebaikan hatinya yang tulus, akan tetap hidup selamanya sebagai kakak terbaik yang pernah dikirimkan Tuhan dalam hidupnya.

Design a site like this with WordPress.com
Get started